Pages

Kedudukan Perempuan Dalam Pandangan Imam Ali as

Sabtu, 03 Desember 2011
assalaamu 'alaykum
mungkin artikel ini bisa menambah khasanah pengetahuan kita. mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.
salaam,
RR
-----------------------------------
http://indonesian.irib.ir/keluarga/-/asset_publisher/aAd0/content/kedudukan-perempuan-dalam-pandangan-imam-ali-as-1;jsessionid=1BC7832029AFE9A58D05EDE423488C65.jvm1
Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia memiliki perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Allah Swt guna mengemban tugas pendidikan dan pengaja...ran masyarakat untuk menghantarkan umat manusia kepada kesempurnaan. Allah Swt menciptakan perempuan, yang merupakan manifestasi keindahan ilahi, yang juga tempat kaum lelaki memperoleh ketenangan dan ketentraman, dalam rangka menghiasi rumah dan keluarga dengan pancaran kasih sayang dan kelemah lembutannya. Imam Ali as berkata, "Perempuan adalah bagaikan sekuntum bunga yang menebar keharuman."
Berdasarkan pernyataan Imam Ali as ini, perempuan seperti bunga yang harus dijaga dan dipelihara agar tetap segar dan dan bugar, sehingga lembaga keluarga akan terhias oleh keindahannya dan tersirami oleh kesegarannya. Oleh karena nilai dan posisi perempuan yang diberikan oleh Islam, maka banyak sekali perintah yang menekankan, pemuliaan, penghormatan dan kecintaan kepada perempuan. Agama Islam memberikan penghormatan kepada perempuan dari posisinya sebagai perempuan. Dalam masalah ini, Imam Ali as menukil dari Rasul Allah Saw, mengatakan, "Seseorang tidak akan menghormati kaum perempuan, kecuali jika orang tersebut berjiwa besar dan mulia. Dan seseorang tidak akan merendahkan kaum perempuan, kecuali jika orang itu berjiwa rendah dan hina." Berkenaan dengan ibu, yang tak lain adalah perempuan, beliau berkata, "Betapa pun seorang anak berbakti kepada ibunya, ia tidak akan mampu menebus satu hari saja dari masa kehamilannya."

Di tengah masyarakat Arab sebelum Islam, kaum lelaki sama sekali tidak menghargai kaum perempuan. Jika istri dari seorang suami melahirkan anak perempuan, maka sang suami akan menguburnya hidu-hidup. Akan tetapi, setelah munculnya Islam dan dengan perjuangan Rasul Allah Saw, terjadi perubahan besar berkenaan dengan posisi kaum perempuan, dan muncullah pandangan baru di tengah masyarakat, yang sangat menghormati dan memuliakan perempuan. Rasul Allah Saw sendiri selalu memberikan contoh nyata dengan perbuatan beliau, baik terhadap istri-istri beliau, terutama Sayidah Khadijah as, terlebih lagi terhadap putri beliau Sayidah Fatimah alaihassalam.

Semua orang tahu bahwa Rasul Allah Saw sangat mencintai dan menghormati putri beliau ini. Setiap kali beliau tengah duduk di dalam rumah beliau, lalu Sayidah Fatimah datang, beliau berdiri, menyambut kedatangan sang putri, memeluk dan menciumnya, lalu beliau mempersilahkan Fatimah as untuk duduk di tempat duduk beliau, sementara beliau sendiri berpindah ke tempat duduk lain. Yang demikian ini juga dilakukan oleh Sayidah Fatimah as terhadap Ayahanda beliau. Pada dasarnya, penghormatan kepada kedudukan perempuan dapat disaksikan dengan jelas di dalam perilaku dan ucapan Ahlul Bait Rasul Saw. Imam ali as berkata, "Anak perempuan adalah kebaikan sedangkan anak lelaki merupakan nikmat. Kebaikan mendatangkan pahala, sedangkan nikmat mendatangkan hisab." Maksudnya ialah bahwa seseorang yang mendapat nikmat akan dihisab dan dimintai pertanggung jawaban tentang nikmatnya itu. Di tempat lain, Imam Ali as berkata, "Seorang yang memiliki anak perempuan, maka pertolongan, berkah dan ampunan Allah akan meliputinya."

Salah satu masalah yang menjadi perhatian para pembesar Islam ialah menghindarkan kaum perempuan dari berbagai ancaman dan gangguan jiwa dan jasmani. Di masa kita saat ini, ketidakperdulian terhadap masalah ini membuat sejumlah besar perempuan menjadi korban dekadensi moral dan penyimpangan seksual. Anthony Giddens, seorang sosiolog Barat mengatakan bahwa pelecehan seksual terhadap perempuan adalah sebuah fenomena yang lumrah di Barat. Menurutnya, perilaku pelecehan terhadap perempuan, sudah sedemikianparahnya di dunia Barat, membuat kaum perempuan, terutama mereka yang bekerja di luar rumah, tidak lagi memiliki ketenangan hidup.

Berkenaan dengan aksi kekerasan terhadap kaum perempuan di AS, Yohan Readley, wartawan perempuan Inggris, mengatakan, "Setiap hari, sejumlah perempuan menjadi korban aksi kekerasan suami mereka, atau teman-teman mereka, dan tidak sedikit yang berakhir dengan kematian. Jumlah korban ini mengalami peningkatan setelah peristiwa 11 September. Di tengah masyarakat seperti AS, mungkin akan dianggap aneh, akan tetapi realitas mengatakan bahwa kaum perempuan selalu menjadi sasaran kekerasan, diseret kepada kerusakan moral, dan dipaksa untuk disalahgunakan dengan berbagai cara.

Imam Ali as menyinggung beberapa hal dalam rangka melindungi perempuan dari berbagai gangguan jasmani dan ruhani. Dalam pandangan beliau, perempuan dapat ikut aktif di tangah masyarakatnya, di dalam aktifitas ekonomi, politik dan sosial, dengan tetap mempertahankan kemuliaan dan kesuciannya, dan mencegah pelanggaran kaum lelaki terhadapnya. Imam Ali as menasehatkan kepada kaum perempuan, jika mereka hadir di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga umum, hendaklah mereka tetap menjaga pakaian dan penampilannya sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, maka dalam pergaulannya di tengah masyarakat luas, ia akan mendapat perlakuan yang baik dan terjaga dari hal-hal yang tak diinginkan.

Sifat pemalu dan kebersihan diri, meski baik dan perlu bagi setiap orang, akan tetapi ia lebih sesuai dan lebih tepat bagi perempuan. Untuk itu kita lihat bahwa Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya dalam kitab Nahjul Balaghah mengatakan, "Pahala bagi seorang pejuang yang gugur syahid di atas jalan Allah tidak lebih besar daripada pahala seorang yang menjaga kebersihan dirinya dari dosa-dosa, padahal ia memiliki kemampuan untuk melakukan dosa-dosa tersebut. Seorang manusia yang bersih, adalah seorang malaikat dari malaikat-malaikat Allah Swt."

Dewasa ini, banyak sekali kaum perempuan, di berbagai belahan bumi, menghormati dan memuliakan kedudukan mulia manusia. Nadia, adalah seorang gadis sulung dari sebuah keluarga campuran Inggris - Asia, yang tengah belajar di fakultas kedokteran. Dia memilih busana muslimah sebagai pakaian sehari-harinya dan mengatakan, "Sebagai seorang perempuan, saya sangat menjaga perasaan malu dan kebersihan diri. Mengenakan hijab, membuat saya merasa terjaga dari berbagai ancaman yang saya hadapi di tengah masyarakat." Dengan mantap dan tegas, Nadia mengatakan, "Saya merasa sangat bangga bahwa model kehidupan saya ialah Fatimah Az-Zahra alaihiassalam."

Imam Ali as memandang tiga sifat; kewibawaan, kehati-hatian dan kecermatan, sebagai ciri-ciri penting perempuan muslimah. Dari ucapan beliau dapat disimpulkan bahwa dalam pergaulan di tengah masyarakat, seorang perempuan harus menjaga kewibawaan dan ketegasannya. Hal ini untuk menghindari kejahatan lelaki-lelaki yang berpenyakit di dalam hatinya. Demikian pula Imam Ali as menegaskan bahwa perempuan harus selalu bersikap hati-hati dan cerdas, sehingga akan menghindarkannya dari ketamakan dan penyalahgunaan kaum lelaki, dan agar masyarakat tidak memandangnya sebagai barang komoditi yang dapat dipermainkan sekehendak mereka.

Ciri-ciri lain seorang perempuan muslimah ialah perhitungan dan sikap cermat serta teliti, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ali as. Sikap seperti ini akan membuat seorang perempuan selalu cermat dan berhati-hati dalam membelanjakan uang dan kekayaan suaminya, serta menjaga kehormatan sang suami dalam masalah ini. Dengan demikian, jika seorang perempuan memiliki tiga sifat mulia tersebut, maka ia akan dapat berpartisipasi dalam pergaulan sosial, dengan partisipasi yang konstruktif, bahu-membahu dengan kaum lelaki.
...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar